Jumat, 27 Desember 2024

Kehebatan Menulis & Membaca Ulama.



Tahun 1258 M, Dinasti Abbasiyah di Baghdad takluk oleh Pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan. Saking bencinya pada Islam, mereka membuang buku-buku khazanah Islam yang ada di perpustakaan Baghdad ke Sungai Tigris, yang luasnya hampir sama dengan Sungai Nil. 

Kedalamannya 10-11 meter. Begitu banyaknya buku hingga seperti menjadi "jembatan" dari Barat ke Timur sungai. (Qishshotu at-Tartar min al-Bidayah ila 'Ain Jalut).

Keheningan Yang Berbicara Mengapa Kita Perlu Menulis?


Oleh Shiny.ane el'poesya

Tulisan adalah sebuah fenomena yang mewujudkan transformasi bahasa dan pemikiran manusia ke dalam realitas abadi yang nyata. Berbeda dengan ucapan yang bersifat sementara dan terikat pada momen, tulisan menciptakan ruang di mana gagasan dapat melampaui batas waktu dan kehadiran fisik. 

Teks akan memorikan petualangan, dan oleh karenanya tulisan menjadi harta karun bagi kepala manusia. Di mana bahasa tidak lagi bergantung pada suara yang hidup, melainkan membentuk sistemnya sendiri yang mandiri.

Selasa, 24 Desember 2024

Kami & Amal Jama'i


إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَ فِى سَبِيلِهِۦ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَٰنٌ مَّرْصُوصٌ            


 "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dengan berbaris bagaikan bangunan yang kokoh."

(QS.As-Shaff: 61:4)

Ini tentang pujian dan cinta Allah. Barisan yang rapi dam mantap, hingga musuh tak mampu menembusnya. Yakni mereka saling berdempetan sampai seperti satu tubuh, saling mengikat, meski terkadang jarak berjauhan. 

Ini mereka lakukan karena kesungguhan mereka dalam menjalankan perintah Allah. Demikian dijelaskan mufassirin.

Apalah arti bata cantik berwarna merah lagi kuat, namun ia sendiri-sendiri. Lemah dan rapuh. Seandainya ada yang menata bata-bata itu menjadi sebuah tembok/bangunan, ada yang diletakkan di atas, di bawah, di kanan kiri, lalu direkat satu sama lain dengan semen pasir.

Senin, 23 Desember 2024

Renungan Kemenangan Dakwah PKS


Pada Pilkada serentak 27 November 2024, Dalam media tertulis : PKS Tumbang Panen Hukuman, karena kekalahan Pilkada versi quick count di basis  PKS menghadapi kekalahan signifikan di beberapa daerah Pulau Jawa, luar Jawa seperti Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Maluku Utara.

Partai dakwah tak pernah kalah. Mungkin di mata manusia kalah, tapi di mata Allah, setiap langkah kecil kader dan simpatisan PKS yang penuh ikhlas selalu bernilai besar di hadapan Allah SWT.

Kita tidak merasa kalah, karena kekalahan ini hanyalah cara Allah membuka pintu kemuliaan yang lebih besar. Di balik ujian ini, ada strategi Ilahi agar potensi terbaik setiap kader keluar seutuhnya. Namun, mari kita renungkan juga bersama: mungkin ada kelelahan yang tak terlihat, ada luka yang tak terucap, dan ada kekecewaan yang terpendam:

Jika The Winner Saja Butuh Istighfar


Jika sudah jadi pemenang pun butuh istighfar, apalagi mereka yang sedang bersusah payah tertatih² berjuang untuk menang?

Pertama. (QS Al-Baqarah: 127-128)

Ayah dan sang anak, yang keduanya Nabi Allah itu, telah menuntaskan pekerjaan agung yang menjadi pusat ritual peribadatan yang sangat panjang. Membangun pondasi rumah Allah (Ka'bah) yang tak henti dikunjungi ummat Islam sedunia, tak henti berputar² mengelilinginya. Alih² merayakan kemenangan. 

Bahkan mereka tersungkur merendahkan diri memohon agar amalnya diterima, dan memohon ampunan. Adab mereka ini lalu Allah ajarkan kepada kekasihnya Rasulullah, untuk disampaikan kepada ummat Islam, termasuk para pejuang Islam. 

Jumat, 20 Desember 2024

Keteladanan Dalam Visi dan Optimisme Rasulullah.


"Kita tidak tau akhir kehidupan seseorang, sebagaimana kita tidak tau akhir kehidupan kita sendiri".
____________

Penduduk Tho'if sangat keterlaluan. Mengolok-olok Rasulullah. Bukan hanya dengan kata-kata, (jika saat ini mungkin semisal postingan kebencian), bukan sekedar framing dan propaganda yang mungkin saat ini dihadapi, tapi juga melempari dengan bebatuan hingga Rasulullah berdarah. Main fisik. Betapa bencinya mereka. 

Bayangkan. Pernah Aisyah radhiyallaahu 'anha bertanya kepada Rasulullah, apakah ada hari yang lebih berat dialaminya dibanding perang Uhud (perang yang teramat berat dan pilu).  Rasulullah menjawab, hari saat ia diusir dan dilempari di Thoif ini.  

Kamis, 17 Oktober 2024

Presiden dan Orang Orang Dekatnya

Sambil menunggu "pengumuman" baca dulu tulisan ini:

oleh: aunur rafiq saleh


وَا صْبِرْ  نَـفْسَكَ  مَعَ  الَّذِيْنَ  يَدْعُوْنَ  رَبَّهُمْ  بِا لْغَدٰوةِ  وَا لْعَشِيِّ  يُرِ يْدُوْنَ  وَجْهَهٗ  وَلَا  تَعْدُ  عَيْنٰكَ  عَنْهُمْ   ۚ تُرِ يْدُ  زِ يْنَةَ  الْحَيٰوةِ  الدُّنْيَا   ۚ وَ  لَا  تُطِعْ  مَنْ  اَغْفَلْنَا  قَلْبَهٗ  عَنْ  ذِكْرِنَا  وَا تَّبَعَ  هَوٰٮهُ  وَكَا نَ  اَمْرُهٗ  فُرُطًا


"Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas." (QS. Al-Kahf: 28)

Korespondensi Nabi Muhammad SAW dengan Penguasa-Penguasa Di Sekitar Jazirah Arab

 


Korespondensi Nabi Muhammad SAW dengan penguasa-penguasa di sekitar Jazirah Arab merupakan bagian dari dakwah beliau yang bertujuan untuk menyebarkan Islam ke luar wilayah Arab. Pada masa Nabi, sekitar tahun 6-7 Hijriah (627-629 M), beliau mengirim surat-surat kepada sejumlah raja, kaisar, dan penguasa yang berkuasa di wilayah-wilayah sekitar Jazirah Arab.

Surat-surat ini disampaikan oleh utusan-utusan Nabi, yang mengajak para penguasa tersebut untuk menerima Islam. Berikut adalah beberapa penguasa yang menerima surat dari Nabi Muhammad SAW:

1. Kaisar Heraclius (Byzantium)

 

Nabi mengirim surat kepada Kaisar Heraclius, penguasa Kekaisaran Bizantium, yang pada saat itu merupakan salah satu kekaisaran terbesar di dunia. Surat ini dikirim melalui utusan Dihyah bin Khalifah al-Kalbi. Heraclius tidak memeluk Islam, tetapi menunjukkan sikap hormat terhadap Nabi dan ajarannya.

Sabtu, 28 September 2024

Penghalang Hidayah (Pelajaran dari Wafatnya Abu Thalib)



Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh 

Kisah Kematian Abu Thalib, menginggatkan kita minimal 3 SEBAB PENGHALANG HIDAYAH. Abu Thalib adalah seorang yang berilmu, sangat dekat dan seringkali didakwahi oleh guru terbaik umat islam yaitu Nabi Shallallahu 'alaihi Wa Sallam. 

Namun mengapa Abu thalib tidak mendapat hidayah?

SEBAB 1 : 
KAWAN YANG BURUK

Berteman dengan orang orang yang buruk dapat menjerumuskan seseorang dalam kesesatan dan terhalang mendapatkan hidayah

Allah Ta'ala Berfirman :

Tafsir Ibnu Katsir, ayat QS. Al-Hasyr: 14




Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat QS. Al-Hasyr: 059 : 014 yang berbunyi :

"Kamu kira mereka itu bersatu, padahal hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti,"

merujuk kepada sifat kaum yang memusuhi Islam, khususnya Bani Nadhir dan kelompok-kelompok Yahudi lainnya yang berada di Madinah pada masa Rasulullah SAW.

Minggu, 18 Agustus 2024

𝗞𝗢𝗡𝗧𝗥𝗢𝗩𝗘𝗥𝗦𝗜 𝗚𝗘𝗥𝗔𝗞𝗔𝗡 𝗔𝗡𝗧𝗜 𝗛𝗔𝗕𝗔𝗜𝗕 𝗕𝗔’𝗔𝗟𝗔𝗪𝗜



𝗦𝗨𝗥𝗔𝗧 𝗞𝗛. 𝗠𝗨𝗛𝗔𝗠𝗠𝗔𝗗 𝗡𝗔𝗝𝗜𝗛 𝗠𝗔𝗜𝗠𝗢𝗘𝗡 𝗧𝗘𝗡𝗧𝗔𝗡𝗚 𝗞𝗢𝗡𝗧𝗥𝗢𝗩𝗘𝗥𝗦𝗜 𝗚𝗘𝗥𝗔𝗞𝗔𝗡 𝗔𝗡𝗧𝗜 𝗛𝗔𝗕𝗔𝗜𝗕 𝗕𝗔'𝗔𝗟𝗔𝗪𝗜

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين وبه نستعين على أمور الدنيا والدين، والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد

Sebelumnya kami memohon maaf kepada seluruh habaib, ulama, dan kiai yang hadir khususnya kepada Habib Quraisy Baharun dan Habib Hanif Al-Atthos yang mengundang kami untuk hadir pada acara diskusi strategis tertutup di Kuningan Jawa Barat ini, bahwa kami memohon maaf tidak bisa hadir pada acara ini. Meskipun demikian, kami sangat mendukung terselenggaranya diskusi ilmiah ini dan kami selalu mendoakan agar diskusi-diskusi seperti ini bisa memperkuat tali silaturahmi antara habaib dan ulama serta sebagai tempat konsolidasi penguatan ajaran-ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah khususnya dalam masalah penghormatan terhadap Ahlul Bait yang akhir-akhir ini terus-menerus hendak dirusak oleh oknum-oknum yang ingin menjauhkan umat Islam dari kecintaan kepada dzurriyyah Rasulullah ShallaLlahu 'alaihi wa Sallama.

Gerakan anti habaib di Indonesia pimpinan Imaduddin Utsman bukan hal baru. Pada tahun 2020 pada fanpage "Generasi Muda NU Banten" Imad menulis artikel berjudul "Habaib bukan Ahlul Bait". Kami telah membahas gerakan anti habaib Bani Alawi yang dimotori oleh Imaduddin Utsman, Mogi Nurfadhil, Nur Ikhyak Salafi, Hadinegara, Fuad Plered, dan lain-lain ini sejak awal mereka membangun argumentasi dan mengkonsolidasikan gerakan satu atau dua tahun yang lalu.

Sangat patut dicurigai bahwa gerakan ini tidak berkembang secara organik, namun merupakan hasil desain dari pihak-pihak jahat yang ingin memecah belah ummat Islam. Bukan tidak mungkin jika gerakan ini disokong oleh kelompok-kelompok jahat seperti oligarki dan sebagainya. Ini membuat kita sesama muslim justru sibuk berjibaku dalam konflik internal padahal tantangan dari luar sangat mungkin bisa mengancam kita semua. Model mengadu domba ala PKI patut kita curigai. Apalagi oknum-oknum Kristiani benci pada kalangan Habaib yang mengawal akidah ummat melalui Syi'ar Sholawatan dan maulidan. Kelompok itu juga benci pada kalangan Kiyai karena mengawal akidah melalui Pesantren, Ngaji kitab dan Pembacaan al-Qur'an bagi orang-orang mati. Tak heran sosok-sosok seperti gus Wafi dibenci komunitas Kristiani dan sosok seperti Idrus Romli juga dibenci olehh kalangan Wahabi dan Liberal yang memiliki hubungan erat dengan kelompok salibis.

Posisi kami jelas, intensi gerakan yang Imaduddin dkk buat ini adalah untuk mempertentangkan dan mengadu domba antar warganegara yaitu kaum Muslimin dengan para habaib dengan kedok penelitian ilmiah, padahal argumentasi yang mereka bangun sama sekali jauh dari kata ilmiah karena mereka menolak metodologi penetapan nasab yang sudah disepakati oleh para ulama Fiqh dan ngotot menggunakan metodologi mereka sendiri yang mereka klaim lebih "modern" dan "akurat" padahal tidak ada dalam kitab-kitab Fiqh. Mereka lebih percaya dengan temuan tes DNA yang dipakai orang-orang Barat daripada pengakuan dari ulama-ulama sekaliber Imam Sakhawi, Imam Ibnu hajar, Imam Ba-Makhramah, Sayyid Murtadla al-Zabidi, ahli sejarah Syaikh Bahauddin al-Yamani al-Janadi, Syaikh Nawawi Banten, Sayyid Bakri Syatho, Hadlratussyaikh Hasyim Asy'ari, KH. Hasan Genggong, KH Hamid Pasuruan, KH Maimun Zubair dan sebagainya.

Sudah begitu banyak ulama dan kiai yang menyampaikan penolakan terhadap gerakan tersebut, namun seperti yang diperkirakan gerakan mereka tidak akan mau berhenti. Bahkan mereka sudah bisa menginfiltrasikan syubhat yang mereka buat di media-media besar, seperti majalah Tempo pada 7 April 2024 kemarin membuat laporan penelitian berjudul "Dijual: Gelar Habib Rp 4 Juta" dan sehari setelahnya 8 April 2024 membuat liputan khusus Idul Fitri berjudul "Obral Gelar Habib" di halaman kovernya. Inna lilLlahi wa inna ilaihi raji'un.

Berikut kami rangkum beberapa alasan kami menolak pernyataan Imaduddin Utsman selaku manifestasi dan pimpinan gerakan anti habaib diatas sebagai berikut:

1. Merusak tatanan ilmu nasab

Imaduddin menolak segala metode penetapan nasab yang memverifikasi kesahihan nasab Bani Alawi. Di antaranya adalah al-syuhrah wa al-istifadhah (terlihat dari label syarif bagi banyak Bani Alawi dalam referensi-referensi sejarah kuno), iqrar shahib al-qabilah (terlihat dari pengakuan banyak Naqabah internasional dan pengakuan dalam kitab-kitab sejarah terdahulu), dan khat al-nassabah (tulisan banyak pakar nasab yang diakui sebagai ahli nasab).

Imaduddin justru membuat satu metode sendiri yang tak pernah bisa ia buktikan sebagai satu metode pembuktian nasab yang diterima oleh para Ulama' nasab. Syarat "kitab sezaman" yang dibuat-buat oleh Imaduddin tidak pernah menemukan pembenarannya baik dalam kitab fiqh Madzahib al-Arba'ah maupun dalam banyak kitab metodologi penetapan ilmu nasab.

2. Tidak berimbang menyikapi keragaman informasi

Imaduddin sangat mudah menerima segala informasi yang belum valid sebagai sebuah kebenaran apabila itu berkaitan dengan pembatalan nasab Bani Alawi. Di sisi yang lain dia secara angkuh menolak sekian banyak fakta yang mengkonfirmasi kesahihan nasab Bani Alawi.

Contoh yang terbaru adalah klaim dia bahwa Mufti Yaman menolak kesahihan nasab Bani Alawi yang kemudian terbukti bahwa itu hanya berdasar tulisan di internet tanpa sedikitpun upaya untuk mengkonfirmasi kebenaran berita itu. Faktanya kabar tersebut adalah kebohongan yang nyata. Contoh yang paling sering ia lakukan adalah menerima kitab al-Syajarah alMubarakah yang diterima seperti kitab yang sangat valid kebenarannya padahal semua pakar nasab bahkan muhaqqiqnya sendiri meragukan validitas kitab tersebut.

3. Mudah menyatakan tokoh sejarah sebagai tokoh fiktif

Cara-cara kotor menuduh fiktif sosok sejarah adalah metode paling sering digunakan oleh para orientalis yang membenci Islam. Dan cara ini sering dipakai oleh Imaduddin dkk padahal penelitian yang mereka lakukan hanya penelitian dari internet yang tentu tidak komprehensif.

Jika metodologi abal-abal yang dibuat oleh imaduddin terus digaungkan, maka akan banyak nasab yang hilang di muka bumi sepertin nasab Syaikh Abdul Qodir al-Jailani bahkan Wali Songo itu sendiri.

4. Memaksakan Interpretasinya Sebagai Kebenaran Tunggal

Tulisan Imaduddin jelas jauh dari standart ilmiah. Namun, apa yang dilakukan Imaduddin kalaupun dikatakan sebagai penelitian ilmiah tetap tak bisa dinyatakan sebagai kebenaran tunggal. Namun sikap-sikapnya di atas panggung justru seolah ia menjadi pemimpin kebenaran tunggal dalam isu ini.

Salah satu contohnya adalah mengenai validitas kitab al-Syajarah al-Mubarakah, metodologi penetapan nasab yang dibuat-buat, interpretasi bahwa tidak disebut artinya menafikan, dan masih banyak lagi. Klaim-klaim yang sampai saat ini belum jelas pembuktian ilmiahnya itu, dieluh-eluhkan secara arogan sebagai kebenaran mutlak yang wajib diikuti.

5. Meninggalkan ulama Aswaja dan justru mendahulukan orang-orang tidak jelas keilmuannya dari kalangan ahli bid'ah

Imaduddin yang mengaku terafiliasi dengan NU menolak sekian banyak referensi dari banyak ulama Ahlussunnah wal Jama'ah seperti Imam al-Sakhawi, Ba-Makhramah, Ibnu Hajar, dan masih banyak lagi. Ia justru terbukti meniru isi tulisan-tulisan di internet yang ternyata ditulis oleh orang-orang yang belum jelas keilmuannya dan terindikasi terafiliasi dengan kelompok-kelompok menyimpang Salafi atau Syi'ah.

Berikut beberapa nama tersebut:

Murad Syukri Suwaidan: Dia adalah seorang dai Salafi Wahabi yang cenderung membela Israel ketika konflik dengan Hamas di Palestina. Dia hanya seorang dai (tukang dakwah) yang itu artinya dia belum pantas disebut sebut sebagai ulama dunia.

Ahmad bin Sulaiman Abu Bakrah al-Turbani: Sosok ini juga terkonfirmasi sebagai Salafi Wahabi. Ia adalah murid dari Salim al-Hilali, Rabi' al-Madkhali, dan Yahya al-Hajuri yang merupakan tokoh-tokoh Salafi. Menurut pengakuan pribadinya, ia bukanlah orang yang taat beragama dan bukan orang yang mendalami ilmu agama. Ini menunjukkan bahwa ia bukanlah seorang ulama.

Muqbil bin Hadi al-Wadi'i: Pada mulanya ia adalah pengikut Syi'ah Zaidiyah asal Yaman, kemudian ia belajar ke Arab Saudi dan menjadi seorang Salafi-Wahabi yang radikal.

Ali al-Thanthawi : Pada mulanya ia adalah seorang Ahlussunnah wal Jama'ah kelahiran Suriah, kemudian ia pindah ke Arab Saudi dan bekerja sebagai penyiar radio dan berubah haluan menjadi Salafi Wahabi.
Syamsuddin Syarafuddin: Ia adalah seorang ulama Syi'ah Zaidiyah yang menjadi Mufti Hautsi. Ia memang memiliki konflik dengan Ahlussunnah wal Jama'ah sehingga wajar kalau ia mencoba mambatalkan nasab Sadah Bani Alawi. Hal itu tak lain dikarenakan faktor politis.

BACAAN LAINNYA
Bahaya Toleransi Agama Yang BerlebihanLingkaran Habaib Ba'alawi dalam kehidupan Syaikhona Kholil Bangkalan𝙂𝙀𝙂𝙀𝙍 𝙉𝘼𝙎𝘼𝘽 𝘽𝙐𝙆𝘼𝙉
𝙄𝙈𝙄𝙂𝙍𝘼𝙉 𝙫𝙨 𝙋𝙍𝙄𝘽𝙐𝙈𝙄

Audah al-'Aqiliy: Beliau berasal dari Mesir dan sangat terindikasi memiliki aliran SalafiWahabi. Hal ini diketahui melalui website yang dikelola atas namanya yang sangat anti dengar ajaran sufi dan sesuai dengan ajaran Salafi Wahabi.

Merekalah yang dijadikan rujukan oleh para pembatal nasab Bani Alawi. Padahal banyak tokoh ulama yang sudah dan akrab familiar di telinga kalangan kiai dan santri serta pengikut Ahlussunnah wal Jama'ah secara umum yang mengakui nasab Ba'alawi, diantaranya seperti Imam al-Janadi (w. 732 H), Imam al-Khazraji (w. 812 H), Imam al-Zabidi (w. 893 H), Imam Ibn Hajar al-Haitami (w. 974 H), Imam al-Kurdi al-Madani (w. 1194 H), Imam Murtadla al-Zabidi (1205 H), Imam al-Syarqawi (w. 1227 H), Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (1304 H), Syaikh Nawawi alBantani (w. 1316 H), Syaikh Mahfuzh Termas (w. 1338 H), Syaikh Yusuf al-Nabhani (w. 1350 H), Syaikh Hasyim Asy'ari dan seluruh ulama pendiri NU, Syaikh Yasin al-Fadani (w. 1409 H), Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, dan masih banyak lagi.

6. Melawan Ijma' tentang fungsi DNA

Pendapat yang bertentangan dengan Ijma' (khariqul Ijma') adalah pendapat yang pasti salah dan haram untuk diikuti. Sejak awal Imaduddin selalu menyerukan DNA sebagai salah satu hujjah terputusnya nasab (bahkan bermunculan tuduhan keji sebagai keturun Yahudi dsb), padahal menurut perkumpulan para ulama dunia DNA jelas secara Ijma' tidak boleh dijadikan dalih membatalkan nasab.

Kesesatan ini justru menjadi salah satu propaganda utama yang selalu digaungkan. Artinya, kelompok ini tidak hanya mengesampingkan para Fuqaha namun juga mengesampingkan ilmu Fiqh itu sendiri.

7. Kitab Yang Menyebutkan Ubaidillah sebagai putra Ahmad al-Muhajir atau menerima nasab Bani Alawi

Dan di antara kitab-kitab yang mencatat nasab mereka adalah:

1. "Al-Suluuk fi Tabaqat al-Ulama' wal-Muluk," karya al-Janadi, seorang sejarawan Yaman yang meninggal antara tahun 730 dan 732 H.
2. "al-'Athaya al-Saniyah wa al-Mawahib al-Haniyah Fi al-Manaqib al-Yamaniyah" : karya al-Malik al-Afdhal, Abbas bin Ali al-Rasuliy yang wafat pada tahun 778 H. Pada Nomor Judul 538
3. "al-'Iqdu al-Fakhir al-Hasan Fi Thabaqat Akabir Ahli al-Yaman: Karya Abu al-Hasan Ali bin al-Hasan al-Khazraji wafat tahun 812 H
4. "Al-'Iqd al-Tsamin fi Tarikh al-Balad al-Amin" : Karya Imam Taqi al-Din Muhammad bin Ahmad al-Hasani al-Fasi (775-832 H) dalam bukunya terebut Juz keenam, halaman 249 (versi kitab unmudzaj ; Juz 6 Halaman 281),
5. Al-Jawhar Al-Shafaf bi Manaqib min Bi-Tarim min Al-Ashraf." : Karya al-Alim dan penulis terkenal Abdul Rahman Al-Khatib yang wafat pada tahun 855 H, penjelasan tentang Nasab Bani Alawi disebutkan dalam Halaman 31.
6. "Tuhfah al-Zaman Fi Tarikh Sadat al-Yaman" : karya Imam al-Muarrikh al-Husain bin Abdirrohman al-Ahdal yang wafat pada tahun 855 H.
7. "Al-Barqat al-Musyiqah", Sayyid Ali bin Abi Bakr bin Abdul Rahman al-Suqafi (wafat tahun 859 H) Pada halaman 118 & 112
8. "Shihah Al-Akhbar." : Karya Muhammad Siraaj Al-Deen Al-Rifa'i yang wafat pada tahun 885 H, penjelasan mengenai Nasab Bani Alawi terkandung dalam kitab tersebut Juz 1 Halaman 53

9. "Tabaqat Al-Khawas Ahl Al-Sidq wa Al-Ikhlas" : Karya Sejarawan Abu Al-Abbas Ahmad bin Ahmad bin Abdul Latif Al-Syarji Al-Zabidiy yang wafat pada tahun 893 H. disebutkan dalam halaman 80
10. "Al-Dlaw'u al-Lami'" : Karya Al-Hafiz al-Sakhawi (wafat tahun 902 H) Kajian tersebut ditulis pada Juz 1 Halaman 59
11. "Qiladah al-Dahr fi Wafiyat a'yan al-Dahr" karya Imam Abi Muhammad al-Thoyyib bin Abdillah bin Ahmad bin Ali Ba-makhramah al-Hijraniy al-Hadlramiy yang wafat tahun 947 H. Dalam kitab tersebut Juz 5 Halaman 230 – 231
12. "Ghurar al-Baha al-Dawi wa Durar al-Jamal al-Badi' al-Bahiy" oleh Sayyid al-Musnid Muhammad bin Ali al-Khard al-Alawi (wafat tahun 960 H). (juz 1 halaman 110 – 111)
13. "al-Mu'jam" : Karya Imam al-Faqih al-Hafiz Ibn Hajar al-Haythami (wafat tahun 974 H) Halaman 31
14. "an-Nafhat al-Anbariyah Fi Ansab Khoiril Bariyah" karya Al-Sharif Muhammad Kazim bin Abi al-Futuh al-Mousawi (wafat tahun 880 H) dalam Halaman 52.
15. "Tuhfat al-Talib" : Karya Syarif Muhammad bin al-Hussein al-Samarqandi (wafat tahun 996 H) dalam halaman 76 (dalam cetakan lain pada halaman 86)
16. "al-Ahsab al-'Aliyah Fia al-Ansab al-Ahdaliyah" karya Abi Bakr bin Abil Qosim alAhdal yang wafat pada tahun 1035 H. Dalam kitab itu, tepatnya di halaman 52 dan 53>
17. "Al-Rawd al-Jali fi Nasab Bani Alawi" Sayyid Murtada al-Zabidi al-Lughawi (tahun 1205 H) dalam Halaman 31

Penutup:

Dari sini jelas, bahwa kami menolak sama sekali gerakan anti habaib yang dipropagandakan oleh Imaduddin Utsman dan para pendukungnya dan mengecam gerakan tersebut yang jelas ingin menjauhkan umat Islam dari kitab-kitab Fiqh Ahlussunnah wal Jama'ah dan mengadu domba antar umat.

Meskipun demikian, kami meminta kepada semua kalangan untuk tidak terprovokasi berlebihan sembari terus menyuarakan counter arguments agar umat Islam tidak tersesat dan terbujuk dengan ajaran mereka.

Sudah saatnya dilakukan introspeksi dari berbagai kalangan yang terikat dalam pusara polemik ini, baik dari kalangan habaib, ulama, atau umat Islam secara umum untuk memprioritaskan kedamaian, menahan diri dari berucap kasar dan mencaci maki, melakukan refleksi dan berbenah diri, serta saling mengingatkan jika memang ada sebagian dari kita yang memperlihatkan sikap dan akhlak yang kurang baik di mata Islam dan di mata masyarakat luas seperti oknum habaib yang memposting kata-kata sombong dan kurang pantas di sosial media, melakukan pemukulan terhadap orang lain karena emosi, dan sebagainya.

Kami semua meyakini bahwa dalam hal keutamaan nasab, para Habaib memanglah memiliki maziyah (keutamaan), namun antara kalangan habaib dan bukan habaib bersifat setara didepan hukum Syari'ah dan hukum negara NKRI yang mengaku sebagai negara yang anti rasisme. Rasulullah ShallaLlahu 'alaihi wa Sallama sendiri bersabda, "Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya." (HR. Bukhari-Muslim)

Terdorong dari rasa sayang dan khawatih kami akan terjadi upaya-upaya keji sebagaimana yang dahulu terjadi kepada para Ulama' dimana banyak tokoh Agama menjadi korban di tahun 66, maka kami memberi masukan kepada para sesepuh habaib dan juga kepada Rabithah Alawiyah supaya senantiasa memberi nasihat dan mengingatkan jika ada sebagian oknum yang bertindak kurang baik dan kurang bijak seperti Habib Bahar yang berkata, "Ini darah Rasulullah, kamu tidak," dan ucapan Habib Alauddin Palembang bahwa Walisongo tidak ada hubungan nasab dengan Ba'alawi dan hanya hubungan sejarah saja. Kalau tidak ada pernyataan tegas dan klarifikasi dari para habaib sepuh dan Rabithah maka kami khawatir pernyataanpernyataan seperti itu dianggap mencerminkan sikap dan pemikiran yang diterima di seluruh kalangan habaib.

Sesekali baik rasanya jika dimunculkan sikap mengalah dari kalangan Habaib atau Kiyai karena kita semua tentu tidak menginginkan polemik ini akan berujung pada konflik pertumpahan darah yang pastinya akan merugikan secara besar-besaran kepada semua pihak.

Kami berharap dengan kita saling berbenah diri serta menjaga lisan dan perbuatan maka kita semakin naik derajatnya di mata Allah Subhanahu wa Ta'ala, serta menjadikan kelompok Imaduddin dkk ini tidak lagi memiliki alasan lagi untuk membesarkan gerakan mereka sehingga tidak laku di masyarakat karena masyarakat melihat kebenaran, ketegasan, dan kesejukan yang kita perlihatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Umat Islam sekarang ini butuh persatuan, dan persatuan akan sulit dicapai jika tidak ada kedamaian. Maka untuk mencapai suasana yang damai dan adem maka seyogyanya bagi kita mengedepankan sikap rendah hati, mawas diri, mampu bersikap adil, dan mau mengalah untuk kebaikan dan persatuan kaum Muslimin. Sebagaimana maklum bahwa tidak ada manusia yang sempurna tanpa kekurangan, tanpa terkecuali kalangan ulama, kiai, dan habib. Kita mengakui bahwa di kalangan ulama dan kiai ada kekurangan seperti ada sosok seperti Gus Miftah, Gus Muwafiq, dan sebagainya. Di kalangan habaib juga ada kekurangan.

Maka dari itu kami mengajak untuk bersama-sama menjaga persatuan dan kedamaian serta menahan diri untuk tidak bersifat sombong, emosi yang berlebihan, dan sebagainya. Justru dengan begitu maka gerakan Imaduddin dkk itu bisa lebih mudah kita redam dan kita hentikan karena tujuan mereka agar terjadi permusuhan antara golongan habaib dan masyarakat gagal terlaksana. Kita harus ingat bahwa musuh kita bersama sekarang adalah liberalisme, dan pluralisme, dan penjajahan Cina komunis dalam segi ekonomi, politik, sosial, dan sebagainya.

Terakhir, kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar kita semua selalu diberikan hidayah untuk meniti jalan kebenaran, selalu didekatkan kepada ilmu dan para ulama, dan selalu didamaikan dengan sesama kaum Muslimin. Amin Ya Rabb al-'alamin. WaLlahu A'lam bi al-shawab.

Sarang, 1 Mei 2024

KH. Muhammad Najih Maimoen

@sorotan pengikut Sorotan SantriSarang

Apakah PKS sudah berubah?



Oleh : ustadz Tifatul Sembiring




Masih banyak yang penasaran tentang sikap PKS di Pilkada 2024.

Bismillahirrahmanirrahim..

1.Insya Allah PKS masih seperti yang dulu, tidak berubah. Azasnya tetap Islam dan cita2nya tetap Terwujudnya Indonesia yang berkeadilan, sejahtera dan bermartabat.

2.Insya Allah PKS tetap dalam rel dan koridor amanah reformasi yang berdasarkan kepada Pancasila dan UUD NRI tahun 1945. Upaya2 yang sungguh2 melakukan perubahan untuk Indonesia yang lebih baik, serta penyelamatan bangsa dan NKRI.

3.Sehingga PKS, sebagai salah satu kumpulan elemen anak bangsa, terjun ke ranah politik dengan menjalankan ketentuan2 dalam konstitusi dan aturan2 yang berlaku dalam sistem demokrasi di Indonesia.

4.Saat ini PKS memiliki kader berpendidikan S3, lebih dari 500 orang. Baik disiplin ilmu Syariah, Fanniyah(Teknik) dan Ilmiyyah (sains).

5.Dewan tertinggi di PKS namanya MAJELIS SYURO, beranggotakan 99 orang. Secara ideal dikomposisi 50% unsur Syariah, 25% Fanniyah dan 25% Ilmiyyah.

6.Keputusan2 strategis diambil lewat pembahasan di Majelis Syuro. Maaf di PKS, untuk hal2 strategis tidak ada itu istilah instruksi Ketum. Semua dimusyawarahkan.

7.Dalam kaitannya dengan Koalisi atau Aliansi, PKS memiliki empat tingkatan: Koalisi Ideologis, Koalisi Strategis, Koalisi Taktis dan Koalisi Teknis.

8.Dalam pengelolaan negara, ini level koalisinya strategis, pernah kami lakukan dengan pak SBY (2004-2014).

9.Adapun PILKADA ini, dalam pandangan PKS, hanya koalisi yg bersifat taktis. Bagaimana sandang, pangan, papan masyarakat daerah setempatan bisa terpenuhi. Bagaimana pengangguran menurun, bagaimana kesehatan terlayani dengan baik, bagaimana infrastruktur daerah dibangun dan dipelihara. Bagaimana pendidikan bisa maju dsb dsb.

10.Adapun koalisi teknis, lebih kepada koalisi kemanusiaan. Kalau kata Kiyai saya 'ukhuwwah bashoriyyah"…

11.Agak rancu juga, jika dengan prinsip2 diatas, dalam upaya2 PKS di pilkada2, yang bersifat taktis itu, TAPI dievaluasi secara idelogis. Ada yang mengirimkan hadits 'ayatul munaafiq tsalaatsun'. Dsb.

12.Dalam pertimbangan lain, Dewan Syariah Pusat PKS, semacam lembaga Yudikatif, juga memberikan arahan2 kaidah ushulul fiqh. Seperti: jika ada 4 orang calon, bagus2 semua, maka gunakan prinsip 'man ahsana minhum', pilih siapa yang terbaik dari mereka. Akan tetapi, jika hanya ada 2 calon, ternyata kurang bagus ke dua2nya, maka gunakan kaidah 'akhoofudh dhoroorain', siapa yang lebih ringan mudhorotnya. Yang paling penting, kepemimpinan itu harus tetap ada, harus dipilih.

13.Sesi pilkada 2024 ini, PKS mengurus lebih dari 400 pilkada. Semua menggunakan prinsip2 diatas.

14.Demikianlah usaha2 maksimum yang dapat kami upayakan. Bagi teman2 yang punya pendapat dan pilihan lain, silakan. Semoga mendapat pemimpin daerah yang terbaik dan bahagia dengan pilihannya. Kami mohon maaf, belum bisa memuaskan semua orang.

15.Dayung ke tepian bersama kekasih/ Cukup sekian dan terimakasih…😊

Sabtu, 03 Agustus 2024

THE TIME HAS GONE SO FAST




Terinspirasi dari potongan ayat di Surat Fathir ayat 37 yang dibacakan oleh Ustadz Dr. H. Agus Setiawan, Lc. MA

Tahun demi tahun sudah kita lalui tanpa terasa. Umur terus bertambah.

Seiring dengan bertambahnya umur berarti kita semakin dekat dengan batas waktu yang telah ditentukan Allâh.

Allâh telah banyak memberikan kesempatan agar umur kita diisi dengan berbagai amal sholeh.

Perlu kita renungkan sindiran Allâh kepada kita di dalam potongan ayat di dalam Surat Fathir ayat 37

.. أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ...

_... Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir,_. 


Kita harus berfikir umur yang panjang yang sudah kita lalui, kita gunakan untuk apa saja. Kita timbulkan kesadaran agar kita tidak membuang waktu untuk sesuatu yang tidak berguna, agar umur kita tidak sia- sia. 

Ibnul Qoyyim berkata 

اِضَاعَةُ الوَقْتِ اَشَدُّ مِنَ الموْتِ لِاَنَّ اِضَاعَةَ الوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَالموْتِ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَاَهْلِهَا

_"Menyia-nyiakan waktu itu lebih parah dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat) Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya."_


Seandainya banyak kelalaian yang telah kita lakukan, sepanjang masih ada sisa umur masih ada harapan untuk meraih ampunan dan keridhoan Allâh. 

Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam memberi kabar gembira dengan sabdanya:

وعن أبي ذر رضي الله عنه قال: قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم- : "من أحسن فيما بقي؛ غفر له ما مضى
_" Dari Abu Dzarr radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:"_

_" Barang siapa yang berbuat kebaikan di sisa umurnya, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang ia lakukan di masa sebelumnya._"

Namun disaat yang bersamaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga mengingatkan dalam lanjutan hadits tersebut:
ومن أساء فيما بقي؛ أخذ بما مضى وما بقي

_"Dan barang siapa yang berbuat kejelekan di sisa umurnya, maka Allah akan memberi siksa atas dosa-dosa yang ia lakukan di masa sebelumnya dan di sisa umurnya."_

Kita berdo'a kepada Allâh agar kita dapat meningkatkan amal ibadah, sehingga ketika ajal menjemput, kita berada dalam puncak ketaatan (husnul khotimah) 
🙏
MR

Sabtu, 06 Juli 2024

Ketika Hewan Kurban mau dipotong



"Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." Q.S. Al-Hajj: 37.

"Aisyah menuturkan dari Rasulullah shallallâhu 'alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, "Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya." (Hadits riwayat al-Tirmidzi: 1413 dan Ibn Majah: 3117).

*6 Kisah Teladan Utsman bin Affan Sebagai Sosok Ideal*


Siapa Utsman bin Affan?

Utsman bin Affan adalah salah satu sahabat nabi yang menjadi khalifah ketiga setelah Umar bin Khattab. Beliau Utsman bin Affan adalah khulafaur rasyidin yang diangkat menjadi khalifah pada usia 70 tahun. Kisah Utsman bin Affan tak lepas dari saat ia menjadi khalifah selama 12 tahun, yakni pada masa pemerintahan tahun 644 hingga 656 M atau 12 Dzulhijjah 35 H. Ia adalah khalifah dengan masa jabatan terlama yang berasal dari Bani Umayyah. Beliau juga mendapatkan gelar dzun nurain atau pemilik dua cahaya karena telah menikahi dua putri Rasulullah SAW.

Kisahnya menginspirasi, bahkan malaikat saja sampai takjub melihat Utsman yang begitu cerdas dan taat dalam menjalankan agama islam.

Berikut beberapa sifatnya yang bisa kita jadikan teladan saat bergaul dengan masyarakat:

1. Utsman bin Affan Adalah Sosok yang Dermawan

Kisah abadi Utsman bin Affan mewakafkan sumur adalah bukti sifat kedermawanannya pada harta. Jika dikonversi ke dalam rupiah, nilai kekayaannya mencapai Rp 2.532.942.750.000. Akan tetapi, ia sama sekali tidak menimbun, melainkan Utsman senang menggunakan hartanya untuk sedekah, zakat, atau wakaf yang manfaatnya berkepanjangan untuk dunia dan akhirat.


Di dunia, banyak masyarakat Madinah yang merasa tertolong dan berdaya dengan adanya sumur Raumah.

Pada saat Nabi Muhammad dan masyarakat Madinah kesulitan mencari air, Rasulullah bersabda:

"Wahai sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka ia akan mendapatkan surgaNya Allah Ta'ala" (HR. Muslim).

Awalnya, Utsman membeli Sumur Raumah dari Yahudi agar Rasulullah dan masyarakat Madinah bisa minum di tengah panceklik. Bermula dari Utsman membeli setengah air, hingga akhirnya membeli sepenuhnya setelah kesepakatan yang lain dengan pemilik sumur.

Sampai sekarang, wakaf sumur dari Utsman hadir dengan kokoh selama 14 abad sebagai devisa negara Saudi.


2. Menjaga Akidah dengan Menghafal Al Quran

Sikap inspiratif dari Utsman bin Affan selanjutnya adalah teguh akidah. Selain pandai berfikir strategis, Utsman juga seorang penghafal Al Quran. Hasratnya dalam mengafal Al Quran membuat Ali berdecak kagum. Di sisi lain, ia mempraktekkan agama dan kehidupan secara berdampingan.

Selain menjalani kehidupan sebagai penghafal Al Quran, ia memiliki kisah istimewa saat percaya terhadap Islam. Sahabat perlu tahu kalau Utsman bin Affan termasuk ke dalam golongan Assabiqunal Awwalun atau orang-orang pertama yang memeluk Islam. 

Setelah mendengar Utsman masuk Islam, pamannya yakni Al-Hakam bin Abil Ash sangat marah hingga mencambuknya berkali-kali agar kembali kepada agama nenek moyangnya.

Utsman tidak gentar. Ia tetap teguh pada akidahnya hingga menjawab,

"Demi Allah aku tidak mengganti keyakinanku, aku tidak akan meninggalkan agama yang diajarkan Rasulullah, apa pun yang terjadi pada diriku."

Karena keteguhannya, pamannya pun menyadari Utsman tidak mungkin kembali ke agama nenek moyang. Maka dari itu, ia melepaskan Utsman bin Affan dari siksaan.


3. Disegani Rasulullah dan Malaikat

Utsman adalah sosok yang selalu memprioritaskan urusan orang lain, baru kemudian urusan pribadi.

Suatu hari, Abu Bakar bertamu ke Rasulullah. Saat itu, Rasulullah menyambutnya dengan salam. Posisi beliau sedang santai di atas tempat tidur, lalu duduk, kemudian bagian gamisnya sedikit terangkat, sehingga menampakkan sebagian betisnya.

Usai Abu Bakar pulang, giliran Umar bin Khattab datang bertamu. Sikap duduk Rasulullah masih sama saat berbincang dengan Abu Bakar.

Setelah Umar selesai dengan urusannya, giliran Utsman yang ingin bertemu Rasulullah. Sontak, beliau mengubah posisi duduknya yang tadinya betisnya tersingkap, menjadi tertutup.

Sesaat setelah Utsman pulang, Aisyah yang memerhatikan gerak gerik Rasulullah bertanya,

"Wahai Rasulullah, kenapa engkau tidak bersiap begitu bagi kedatangan ayahku (Abu Bakar) dan Umar?"

Rasulullah menjawab bahwa Utsman adalah sosok yang pemalu. Ia memiliki karakter apabila urusan orang lain, termasuk Rasulullah, belum selesai, maka ia akan buru-buru pulang, padahal keperluan Utsman sendiri belum kelar. Sikap pemalunya disegani oleh malaikat,

"Utsman merupakan seseorang yang pemalu. Bila dia masuk, sedangkan aku masih berbaring, pasti dia malu untuk masuk dan akan cepat-cepat pulang, padahal belum dia menyelesaikan keperluannya. 

Wahai, Aisyah, tidakkah aku patut malu kepada seseorang yang dimalui (disegani) oleh para malaikat?" ujar Rasulullah.


4. Utsman bin Affan Berjiwa Sosial Tinggi


🍀 Rasulullah mengenal Usman bin Affan sebagai sosok yang berjiwa sosial tinggi. Utsman akan gelisah bila ia mengetahui orang yang kesulitan, namun ia tidak dapat membantu. Seperti saat umat Islam di Madinah dilanda krisis ekonomi, sehingga sulit menghadapi Perang Tabuk karena minim armada.
Utsman adalah sosok yang tidak akan meninggalkan Sahabat sendirian saat kesulitan. Ia pun menyumbang 300 ekor unta dan 1000 dinar dari kantong pribadinya untuk Perang Tabuk. Rasulullah SAW yang menerima bantuan tersenyum seraya mendoakan Utsman agar dosa-dosanya, baik yang dirahasiakan maupun dosa yang ia nyatakan diampuni oleh Allah.
"Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu, wahai Ustman. Dosa yang kamu rahasiakan maupun dosa yang kamu nyatakan" (HR Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf)


5. Solutif, Membukukan Ayat Al Quran Jadi Mushaf


🍀 Utsman bin Affan bersama para penghafal Al Quran seperti Abu Darda dan Zaid bin Tsabit menghimpun lembaran Al Quran menjadi mushaf. Sebelumnya, pengumpulan dan penulisan ulang ayat Al Quran sudah dilakukan sejak masa khalifah Abu Bakar. Hanya saja, saat itu lembarannya masih terpisah satu sama lain.
Ide brilian untuk menyatukan lembaran ayat muncul pada masa khalifah Utsman. Lalu, ia mengambil lembaran yang disimpan di rumah Hafsah binti Umar untuk dibukukan.


🍀 Utsman bergegas membentuk panitia untuk mengemban tugas besar ini dengan memilih Zaid bin Tsabit sebagai ketua. Dalam prosesnya, lembaran ayat disalin untuk disusun menjadi bentuk mushaf. Setelah selesai, Usman mengembalikan lembaran Al Quran pada Hafsah. Mushaf pertama ia simpan di Madinah, empat buah lainnya dikirim ke Mekkah, Syria, Basrah, dan Kuffah untuk dicetak lebih banyak.


6. Berprinsip Hidup Sederhana


🍀 Utsman bin Affan adalah saudagar kain kaya raya yang memiliki sifat sederhana. Ia adalah salah satu orang terkaya di antara orang-orang Quraisy. Kendati demikian, jiwanya tetap sederhana dan suka berdonasi untuk membantu orang-orang yang kesulitan hingga mereka mampu berdiri di atas kaki sendiri.


Itulah kisah Usman bin Affan yang dapat kita tiru sebagai sosok yang ideal. Semoga kita dapat meneladaninya.




Reshared by Kustiyadi

Sabtu, 29 Juni 2024

Luka Tarbiyah



Aunur Rofiq

*Luka Tarbiyah*

Dalam dunia parenting dikenal istilah luka pengasuhan, rupanya dalam aktifitas Tarbiyah (Pembinaan) berpeluang juga muncul *Luka Pembinaan*.

*Luka Tarbiyah* mungkin saja ada dalam aktifitas Tarbiyah. Namun bagaimana kita menyikapi luka Pembinaan ?
Shiroh Nabawiyah menjadi muhasabah tarbawiyah.

Syawal tahun 8 H, selama 10 malam di _Ji'ranah,_ hari itu ada kecewa. Ada kebijakan Rasulullah yang tak dipahami. Ada keputusan yang di salah mengerti. Sangat manusiawi kelihatannya. Orang-orang Anshar merasa disisihkan selepas perang Hunain yang menggemparkan.

Mereka telah berjuang total. Mereka berperang di sisi Rasul dengan penuh kecintaan. Tapi, harta rampasan perang lebih banyak dibagikan pada orang-orang Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya. Sementara pada mereka, seakan hanya memperoleh sisa.

Maka sekelompok orang Anshar merasa keberatan dengan 'kebijakan' ini.  Ada yang "memercikan api" mengatakan, _"Demi Allah, Rasulullah SAW telah mementingkan kaumnya sendiri_."

Sa'ad bin Ubadah kemudian mengadukan hal tersebut kepada beliau, seraya berkata, _"Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang Anshar merasa keberatan  terhadap keputusanmu dalam pembagian harta Fai'_ (_rampasan yang didapat tanpa peperangan) itu_ _Engkau lebih mementingkan kaummu dan  kabilah-kabilah Arab lainnya, sedangkan mereka (orang Anshar ) hanya mendapatkan bagian sangat sedikit_

Mendengar pengaduan Sa'ad, beliau bertanya, _"Wahai Sa'ad, kamu berada di pihak mana_ (mewakili siapa) ?" Sa'ad menjawab, _"Wahai Rasulullah, aku ini hanyalah bagian dari kaumku_." Rasulullah SAW kemudian meneruskan , _"Kalau demikian , kumpulkan kaummu di tempat ini."_  Rasulullah SAW berusaha  menenangkan situasi.

Kemudian Rasulullah SAW mendatangi mereka seraya memuji kepada Allah, beliau berkata, _"Wahai kaum Anshar Bukankah aku datang kepada kalian dahulu saat kalian dalam kesesatan, lalu Allah berikan petunjuk? Kalian dalam keadaan miskin, lalu Dia mencukupkan ? Kalian saling bermusuhan, lalu Dia menyatukan hati ?"_

Mereka serentak  menjawab, _"Benar, hanya Allah dan Rasul-Nya yang lebih utama. 'Dengan apa lagi kami harus menjawab pertanyaanmu wahai Rasulullah ?' Karena sesungguhnya hanya Allah dan Rasul-Nya yang memiliki Karunia dan Keutamaan itu_." jawab mereka.

Lalu Rasulullah SAW meneruskan 
_"Demi Allah, jika mau kalian bisa mengatakan, 'Engkau dahulu datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkan. Engkau dahulu datang kepada kami dalam keadaan lemah, lalu kami menolongmu. Engkau dahulu datang kepada kami dalam keadaan terusir, lalu kami memberikan tempat kepadamu. Engkau dahulu datang kepada kami dalam keadaan miskin, lalu kami yang menampungmu_.'
_"Apakah ada dalam hati kalian keinginan terhadap materi yang telah aku gunakan untuk melunakkan hati suatu kaum agar mereka istiqamah dengan Islam? Sedangkan aku sudah sangat percaya dengan  keislaman kalian ? Tidakkah kalian ridha, wahai kaum Anshar, orang-orang pulang dengan membawa domba dan unta sedangkan kalian pulang dengan membawa Rasulullah SAW ke rumah kalian ? Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, andai saja bukan karena hijrah niscaya aku adalah salah seorang Anshar. Andaikata orang-orang memilih jalan di antara celah-celah bukit, lalu orang Anshar memilih jalan lain, niscaya aku memilih jalan yang ditempuh orang Anshar."_

Kata-kata Rasulullah SAW itu sangat  menggetarkan hati orang- orang yang diselimuti keimanan. Suasana mendadak senyap, kecuali suara Rasulullah yang teduh. Beberapa sahabat mulai menangis sesenggukan, _Kami ridha dengan pembagian yang diberikan Rasulullah SAW_." 

Kisah di atas teramat panjang. Darinya kita belajar bagaimana dalam komunitas kebaikan sekalipun, kekecewaan itu nyaris tak dapat dielakkan.

Setiap kita mungkin pernah kecewa. Sebabnya bisa bermacam-macam. Tapi sebagiannya karena kita tak bersepaham dengan orang lain; apakah kelakuannya, kebijakannya, pernyataannya, perhatiannya, atau apapun. Kita pun bisa kecewa karena merasa tidak mendapat dukungan yang memadai. Kecewa itu bisa muncul di mana-mana, bahkan dalam dakwah sekalipun.

Hanya kekuatan imanlah yang mampu menjaga kita dari penyikapan yang salah saat kecewa. 

Sejak memilih jalan dakwah, niat kita bukan karena ingin selalu disenangkan. Bukan pula hasrat untuk terus dimenangkan.

Kita bukan kumpulan para malaikat yang suci atau nabi yang maksum. Kita adalah insan yang terikat ketika ber-syahadat, berusaha menjalani dan berkomitmen. 

Jika hati komitmen benar-benar tulus, maka hati akan tetap lapang untuk memaafkan setiap kesalahan saudara-saudara seperjuangan. Sehingga tidak tersisa tempat sekecil apa pun untuk permusuhan dan dendam.

Jika kita benar-benar tulus, niscaya kelembutan hati anggota jamaah akan terwujud. Fenomena ingin menang sendiri saat berbeda pendapat akan jarang terjadi.

Jika kita benar dalam komitmen maka anggota akan segera menunaikan kewajiban keuangannya untuk dakwah tanpa dihinggapi rasa ragu sedikit pun. Semboyannya adalah *"Apa yang ada padamu akan sirna dan apa yang ada di sisi Allah akan kekal."*

Semoga Allah menjaga keistiqamahan kita dan menguatkan keikhlasan kita dalam beramal.

*Endah Suci.W*
(Peserta Sekolah Kepenulisan DPD PKS Kota Bekasi)

Minggu, 23 Juni 2024

Ketika Imam Malik dan Imam Syafi’i beda pendapat tentang Rezeki



Imam Malik (Guru Imam Syafi'i) berkata, "Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan rezeki. Lakukan bagianmu, lalu biarkan Tuhan yang mengurus sisanya."

Imam Syafii bertanya, "Jika seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia mendapat rezeki?".  Guru dan murid itupun tetap teguh dalam pendapatnya masing-masing.

Suatu ketika Imam Syafii pergi berjalan-jalan dan melihat sekelompok petani sedang memanen buah  anggur. Beliau juga membantu mereka.

Setelah pekerjaannya selesai, Imam Syafii menerima imbalan berupa beberapa ikat  anggur. Imam Syafii senang bukan karena mendapat anggur, tapi karena hadiah itu menguatkan pendapatnya.

Imam Syafi'i akhirnya bergegas menemui gurunya Imam Malik. Sambil meletakkan semua anggur yang didapatnya, beliau menceritakan, dan sedikit mengeraskan kalimatnya, "Jika saya tidak keluar dari gubuk dan melakukan sesuatu (membantu memanen), tentu anggur tidak akan pernah sampai ke tangan saya."

Mendengar perkataan Imam Syafi'i, gurunya Imam Malik tersenyum sambil mengambil anggur dan mencicipinya.

Kemudian Imam Malik berkata dengan lembut, "Hari ini saya tidak keluar, hanya mengambil pekerjaan sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah baiknya jika di hari yang panas ini saya bisa menikmati  anggur. Tiba-tiba engkau datang membawakanku beberapa buah  anggur segar. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa alasan. Cukup dengan tawakkal kepada Allah, pasti Allah akan memberikan Rezeki. Lakukan bagianmu, lalu biarkan Allah yang mengurus sisanya."

Akhirnya, guru dan murid itu saling tertawa. Begitulah cara para ulama melihat perbedaan, bukan dengan menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan pendapat mereka. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.*

#jangkauan #fyp #sorotan #reels #dakwah #islami

Sabtu, 22 Juni 2024

Penggunaan kata “wathan” di dunia Islam



Orang yang pertama memasarkan penggunaan kata "wathan" di dunia Islam adalah Syekh Rifa'ah al-Tahtawi, setelah lima tahun hidup di Paris (1831-1836 M), di mana Tahtawi menyaksikan pergolakan pemikiran dan gagasan-gagasan yang mendominasi di tengah-tengah masyarakat Paris pada saat itu. Secara sengaja atau tidak sengaja, kemudian Tahtawi jatuh ke dalam pengaruh pandangan Barat yang dia rasakan, dan kemudian dia pulang ke Mesir membawa pandangan tersebut.

Jadi, pasca kembalinya Tahtawi ke Mesir itulah untuk pertama kalinya kita mendengar istilah "wathan" dan "hubbul wathan" dengan arti nasionalisme yang sedang berkembang di Eropa.

Sebagaimana kita ketahui bahwa paham nasionalisme merupakan sebuah paham yang berdiri di atas landasan fanatisme terhadap sebuah wilayah tertentu dengan batas-batas tertentu yang ingin dijadikan sebagai kesatuan entitas, di mana sejarah lamanya dikaitkan dengan sejarah kontemporernya agar menjadi sebuah satu kesatuan yang utuh dan memikiki kepribadian sendiri, yang berbeda dengan wilayah-wilayah lain; baik dari kalangan kaum Muslim sendiri maupun non Muslim.

Dan dalam konteks inilah untuk pertama kalinya kita menjumpai adanya perhatian terhadap sejarah kuno diserukan dalam rangka memperkokoh konsep nasionalisme modern ini.

Dalam rangka memperkuat kekuasaan nasionalisme serta menjadikannya sebagai poros loyalitas warga negara (muwathin)-nya, para penguasa di dalam kekuasaan dalam konsep nasionalisme selalu berupaya untuk menciptakan budaya-budaya yang berbasis nasionalisme, dengan cara membangkitkan kebanggaan yang berasas nasionalisme yang bersumber dari sejarah budaya dan pemikiran serta politik bagi wilayah tersebut.

Dan tentu tidak boleh ketinggalan, para penjaga kekuasaan atas dasar nasionalisme mesti menciptakan simbol-simbol nasionalisme, mulai dari bendera, lagu kebangsaan, hingga membuat patung dan berhala-berhala bagi para tokoh yang menonjol di medan pemikiran dan politik.


#Nasionalisme #Kebangsaan #NegaraBangsa #NegaraIslam #SyariatIslam #SyariahKhilafah #KhilafahAjaranIslam #IslamKaffah #IslamBersaudara #MuslimBersaudara #IslamBersatu #MuslimBersatu #MuslimBertauhid #SekularismeMerusakTauhid

Senin, 17 Juni 2024

Menjadi Burung Buta dan Lumpuh





🍀 Syaqiq Al-Balkhy, seorang zahid, bermaksud menggeluti dunia bisnis. Ia berpamitan kepada Ibrahim bin Adham, juga seorang zahid yang sangat wara'. 

🍀 Ibrahim berdoa agar Syaqiq diberkahi dalam bisnisnya, senantiasa zahid, dan melaksanakan ibadah dan dzikir. Namun, baru beberapa hari meninggalkan kampung halamannya, Syaqiq kembali. Ibrahim merasa heran dan bertanya, "Mengapa engkau kembali lagi?" 

🍀 Syaqiq menceritakan peristiwa yang membuatnya kembali pulang dan meninggalkan tekadnya semula. "Tatkala saya singgah di tengah perjalanan untuk beristirahat, saya memasuki reruntuhan rumah untuk suatu keperluan. Di dalamnya saya melihat seekor burung yang buta lagi lumpuh, tentu saja tak mampu bergerak, apalagi terbang. Saya merasa iba melihatnya. Kemudian saya berkata sendiri, 'Dari mana burung malang ini bisa mendapatkan makanan di tempat ini?' Tak lama kemudian, seekor burung lain membawa makanan, menyuapi burung yang buta dan lumpuh tersebut. 
 
🍀 Saya mengamatinya sampai beberapa hari. Terbesit di hati saya, 'Sesungguhnya yang memberikan rezeki kepada burung yang buta dan lumpuh di reruntuhan ini, juga mampu memberikan rezeki kepadaku.' Lalu saya menetapkan kembali ke kampung halaman." 

🍀 Ibrahim bin Adham berkata, "Subhanallah! Wahai Syaqiq! Mengapa engkau rela menjadikan diri sendiri sebagai burung buta dan lumpuh yang hanya bisa menunggu pertolongan yang lain? Mengapa engkau tidak bertekad menjadi burung lain yang berusaha dan berjerih payah, lalu kembali sambil membawa hasil jerih payahnya untuk disuapkan kepada burung yang buta dan hanya duduk-duduk saja? 

🍀 "Tidakkah engkau mendengar sabda Nabi SAW, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah?" Syaqiq bangkit menghampiri Ibrahim, lalu memeluk tangannya. Seraya berkata, "Engkau adalah guru kami, Wahai Abu Ishaq!" 

🍀 Kisah di atas setidaknya mengandung tiga hikmah. 

🍀Pertama, setiap makhluk di bumi rezekinya diatur Allah. 

🍀Kedua, meskipun demikian, kita tidak boleh berpangku tangan atau menunggu saja kedatangan rezeki itu.
Ia harus dicari dengan ikhtiar (bekerja). Islam tidak menghendaki umatnya berpangku tangan, menunggu uluran tangan orang lain. 

🍀 Ketiga, umat Islam mesti berusaha menjadi pemberi, bukan penerima. Rezeki diberikan Allah kepada orang yang bertawakal, yakni berserah diri kepada-Nya sambil berusaha.

🍀 "Sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Dia akan memberi rezeki kepada kalian, sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung yang pergi dalam keadaan perut kosong dan kembali lagi dalam keadaan kenyang" (HR. At-Tirmidzi). 

🍀 Allah SWT tidak akan menjamin kekenyangan kepada burung yang pergi, kecuali kepergiannya untuk aktif bergerak dan menyebar mencari makan. Demikian pula halnya dengan manusia. Islam mengajarkan umatnya untuk hidup seimbang antara memenuhi kebutuhan ruhani dan jasmani.

🍀 "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (untuk kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi..." (QS. Al Qashshah [28]: 77).
🍀🍀
Oleh ASM Romli
🍀🍀

Reshared by Kustiyadi

Kamis, 13 Juni 2024

Meningkatkan Semangat Berkurban

 

Beberapa kata-kata motivasi untuk meningkatkan semangat berkurban di Hari Raya Idul Adha:

1.  "Berbagi adalah bentuk cinta tertinggi. Dengan berkurban, kita berbagi kebahagiaan dengan sesama."

2.  "Kurban adalah wujud ketakwaan kita kepada Allah SWT. Semakin ikhlas kita berkurban, semakin dekat kita kepada-Nya."

3.  "Semangat berkurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih sifat egois dan menggantinya dengan rasa peduli."

4.  "Dengan berkurban, kita meneladani keteguhan iman Nabi Ibrahim dan keikhlasan Nabi Ismail. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kisah mereka."

Rabu, 05 Juni 2024

Keteladanan Umar bin Khattab dan Sifat-sifat Mulianya sebagai Khalifah



🐂 Umar bin Khattab adalah khalifah kedua setelah Abu Bakar Ash Shiddiq. Ia dijuluki sebagai Al Faruq yang artinya pembeda karena ia dapat membedakan yang benar dan yang batil, yang baik dan yang buruk.


🐪 Umar bin Khattab memiliki banyak sifat-sifat mulia yang patut diteladani oleh umat Muslim, yakni sebagai berikut.

Selasa, 04 Juni 2024

Keutamaan Berusaha Dan Punya Penghasilan

Berikut adalah penjelasan mengenai tiga poin materi tentang keutamaan berusaha dan punya penghasilan:

1. Larangan Meminta-Minta

Larangan meminta-minta dalam Islam merupakan ajaran yang sangat ditekankan. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan:

- Menjaga Harga Diri:
Meminta-minta dianggap sebagai tindakan yang merendahkan harga diri seseorang. Islam mengajarkan umatnya untuk bekerja keras dan berusaha dalam memenuhi kebutuhan hidup.

- Menghindari Ketergantungan:
Dengan meminta-minta, seseorang menjadi tergantung pada orang lain. Islam mengajarkan umatnya untuk mandiri dan berusaha sendiri.

- Hadis Nabi:
Rasulullah SAW bersabda, "Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah" (HR. Bukhari dan Muslim), yang artinya orang yang memberi lebih baik daripada yang meminta.

Senin, 03 Juni 2024

Meneladani Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu



🐏 Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang paling utama bahkan ia adalah manusia paling mulia setelah para nabi dan rasul. Abu Bakar memeluk Islam tatkala orang-orang masih mengingkari Nabi.

🐂 Ammar bin Yasir radhiallahu 'anhu mengatakan, "(Di awal Islam) Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hanya bersama lima orang budak, dua orang wanita, dan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu 'anhum 'ajmain." (Riwayat Bukhari).

Berlari kah ..... atau Cukup Berjalan ?



السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 


Sedulurku...... 
Kapan kita harus berlari...? 
Kapan kita harus berjalan......? 

Beginilah al-Qur'an bertutur, membuat sebuah panduan yang berharga, bahwa apa yang kita tuju menentukan cara kita untuk sampai kepada-Nya......
Jangan terbalik dalam memperlakukannya. 

 URUSAN Berdzikir  Urusan Sholat, perintahnya adalah Berlarilah !

"Wahai orang yang beriman, apabila kalian diseru untuk menunaikan sholat Jum'at, maka BERLARILAH kalian untuk MENGINGAT Allah dan tinggalkanlah jual beli."
 
(QS. Al-Jum'ah : 9)

Minggu, 02 Juni 2024

Edukasi dalam Penguatan Tauhid

Bagi seorang muslim ada edukasi yang tidak pernah berhenti dalam penguatan tauhid dan mengajarkan selalu produktif bagi dirinya hingga akhir hayat.

Maksudnya?

Begini. Di saat dzikir pagi ada satu do'a; dalam do'a tersebut setidaknya ada lima hal yang kita dapatkan.

Pertama, Diingatkan agar tidak menyekutukan Allah.

Laa ilaha illaha wahdahu laa syarikalah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai'in qodir.

(Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatunya.)

Yang "Nongki" Di Jalan Dakwah



(Seri Indonesia Membina)

@ Dwi Budiyanto

Ada seorang murabbi di Yogyakarta, enam puluh tahun usianya. Tak banyak di antara kita mengenalnya. Empat kali dalam sepekan ia menempuh jarak 60 Km lebih untuk mengisi forum pembinaan pekanan dan taklim rutin, di daerah Gunungkidul._

Dengan motor ia tempuhi jalan terjal dan menanjak. Ia tampil sebagai dai dan murabbi yang tak berpikir popularitas.

****

"Selagi konsisten membina, insya Allah, kita tidak pernah menganggur di jalan dakwah ini. Kalau tidak mau membina, terus kita mau ngapain?" demikian kata Ustadz Cholid Mahmud ~Allahuyarham, suatu ketika. 

Minggu, 26 Mei 2024

Peran Manusia


  

1. Makna Pemuliaan Manusia

2. Fenomena pemuliaan manusia dan dalinya dari Al-Qur'an dan Sunnah

 

1. Makna Pemuliaan Manusia:

Pemuliaan manusia mengacu pada penghormatan, pengakuan, dan penghargaan terhadap martabat dan nilai manusia sebagai makhluk yang mulia dan berharga. Dalam pandangan Islam, manusia dianggap sebagai ciptaan Allah yang istimewa dan memiliki kedudukan tinggi di antara makhluk lainnya. Hal ini terkait dengan beberapa aspek utama:

Pentingnya Pembinaan




Ust. Ainur Rofiq Saleh Tamhid, dalam : *bangkit indonesiaku: menyalakan semangat membina* (museum Diponegoro, 20 Mei 2024)

Indonesia mengalami penurunan atau kemandegan proses pembinaan/kaderisasi.
1. Bahwa proses pembinaan tidak seperti dahulu.
Semua sepakat tentang hal itu dan sepakat jg untuk itu menjadi agenda utama.

Kamis, 23 Mei 2024

Hukum Taklif

 

Hukum taklif adalah konsep dalam hukum Islam yang merujuk pada kewajiban syariat yang dikenakan kepada mukallaf (orang yang dibebani tanggung jawab hukum). Istilah "taklif" sendiri berasal dari kata "kallafa," yang berarti membebani atau mengharuskan. Berikut adalah beberapa aspek penting dalam memahami hukum taklif:

1. Mukallaf (Orang yang Dibebani):

- Baligh: Seseorang yang telah mencapai usia pubertas.

- Aql (Berakal): Seseorang yang memiliki akal sehat.

- Islam: Seseorang yang beragama Islam.