Jumat, 27 Desember 2024

Kehebatan Menulis & Membaca Ulama.



Tahun 1258 M, Dinasti Abbasiyah di Baghdad takluk oleh Pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan. Saking bencinya pada Islam, mereka membuang buku-buku khazanah Islam yang ada di perpustakaan Baghdad ke Sungai Tigris, yang luasnya hampir sama dengan Sungai Nil. 

Kedalamannya 10-11 meter. Begitu banyaknya buku hingga seperti menjadi "jembatan" dari Barat ke Timur sungai. (Qishshotu at-Tartar min al-Bidayah ila 'Ain Jalut).

Keheningan Yang Berbicara Mengapa Kita Perlu Menulis?


Oleh Shiny.ane el'poesya

Tulisan adalah sebuah fenomena yang mewujudkan transformasi bahasa dan pemikiran manusia ke dalam realitas abadi yang nyata. Berbeda dengan ucapan yang bersifat sementara dan terikat pada momen, tulisan menciptakan ruang di mana gagasan dapat melampaui batas waktu dan kehadiran fisik. 

Teks akan memorikan petualangan, dan oleh karenanya tulisan menjadi harta karun bagi kepala manusia. Di mana bahasa tidak lagi bergantung pada suara yang hidup, melainkan membentuk sistemnya sendiri yang mandiri.

Selasa, 24 Desember 2024

Kami & Amal Jama'i


إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَ فِى سَبِيلِهِۦ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَٰنٌ مَّرْصُوصٌ            


 "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dengan berbaris bagaikan bangunan yang kokoh."

(QS.As-Shaff: 61:4)

Ini tentang pujian dan cinta Allah. Barisan yang rapi dam mantap, hingga musuh tak mampu menembusnya. Yakni mereka saling berdempetan sampai seperti satu tubuh, saling mengikat, meski terkadang jarak berjauhan. 

Ini mereka lakukan karena kesungguhan mereka dalam menjalankan perintah Allah. Demikian dijelaskan mufassirin.

Apalah arti bata cantik berwarna merah lagi kuat, namun ia sendiri-sendiri. Lemah dan rapuh. Seandainya ada yang menata bata-bata itu menjadi sebuah tembok/bangunan, ada yang diletakkan di atas, di bawah, di kanan kiri, lalu direkat satu sama lain dengan semen pasir.

Senin, 23 Desember 2024

Renungan Kemenangan Dakwah PKS


Pada Pilkada serentak 27 November 2024, Dalam media tertulis : PKS Tumbang Panen Hukuman, karena kekalahan Pilkada versi quick count di basis  PKS menghadapi kekalahan signifikan di beberapa daerah Pulau Jawa, luar Jawa seperti Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Maluku Utara.

Partai dakwah tak pernah kalah. Mungkin di mata manusia kalah, tapi di mata Allah, setiap langkah kecil kader dan simpatisan PKS yang penuh ikhlas selalu bernilai besar di hadapan Allah SWT.

Kita tidak merasa kalah, karena kekalahan ini hanyalah cara Allah membuka pintu kemuliaan yang lebih besar. Di balik ujian ini, ada strategi Ilahi agar potensi terbaik setiap kader keluar seutuhnya. Namun, mari kita renungkan juga bersama: mungkin ada kelelahan yang tak terlihat, ada luka yang tak terucap, dan ada kekecewaan yang terpendam:

Jika The Winner Saja Butuh Istighfar


Jika sudah jadi pemenang pun butuh istighfar, apalagi mereka yang sedang bersusah payah tertatih² berjuang untuk menang?

Pertama. (QS Al-Baqarah: 127-128)

Ayah dan sang anak, yang keduanya Nabi Allah itu, telah menuntaskan pekerjaan agung yang menjadi pusat ritual peribadatan yang sangat panjang. Membangun pondasi rumah Allah (Ka'bah) yang tak henti dikunjungi ummat Islam sedunia, tak henti berputar² mengelilinginya. Alih² merayakan kemenangan. 

Bahkan mereka tersungkur merendahkan diri memohon agar amalnya diterima, dan memohon ampunan. Adab mereka ini lalu Allah ajarkan kepada kekasihnya Rasulullah, untuk disampaikan kepada ummat Islam, termasuk para pejuang Islam. 

Jumat, 20 Desember 2024

Keteladanan Dalam Visi dan Optimisme Rasulullah.


"Kita tidak tau akhir kehidupan seseorang, sebagaimana kita tidak tau akhir kehidupan kita sendiri".
____________

Penduduk Tho'if sangat keterlaluan. Mengolok-olok Rasulullah. Bukan hanya dengan kata-kata, (jika saat ini mungkin semisal postingan kebencian), bukan sekedar framing dan propaganda yang mungkin saat ini dihadapi, tapi juga melempari dengan bebatuan hingga Rasulullah berdarah. Main fisik. Betapa bencinya mereka. 

Bayangkan. Pernah Aisyah radhiyallaahu 'anha bertanya kepada Rasulullah, apakah ada hari yang lebih berat dialaminya dibanding perang Uhud (perang yang teramat berat dan pilu).  Rasulullah menjawab, hari saat ia diusir dan dilempari di Thoif ini.